Laman

Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Maret 2013

"Buon Appetito!"

Jalan-jalan tanpa makan-makan rasanya kurang seru…

Apa lagi kalau perginya ke Italia, negara yang tidak hanya terkenal lewat mobil mewah, perancang haute couture, karya seni, dan arsitektur yang indah tetapi juga lewat kelezatan pizza dan pastanya. Saya mau berbagi sedikit cerita tentang pengalaman makan-makan selama di Milan, Italia. Kebetulan pasta adalah salah satu makanan favorit saya…

Hari pertama di Milan, Fitorio, memperkenalkan kami pada aperitivo, acara minum-minum sebelum makan malam, di sebuah resto bernama Maya yang terletak di distrik Navigli, tidak sampai 500 meter berjalan kaki dari stasiun metro Porta Romana. Selain minuman, pengunjung juga bisa menikmati berbagai makanan mulai dari salad, sup, roti, pasta, risotto, pizza, lasagna, hingga tiramisu, sepuasnya, cukup dengan membayar satu gelas minuman apa saja seharga 9 euro. Meskipun disebut makanan pembuka, bagi kebanyakan orang Indonesia, makanan-makanan itu sudah lebih dari cukup. Percayalah, lambung kita tak akan sanggup melanjutkan ke acara makan utama yang pilihan menunya pasti lebih berat lagi :D Bagi yang suka makan, saya sarankan untuk memesan minuman yang ringan saja seperti soft drink. Minuman yang terlalu berat akan membuat kita lekas kenyang dan semakin haus pula. Rugi kalau harus memesan minuman sampai dua kali, kan?

Buffet aneka makanan lezat
Ada lebih dari 25 macam makanan disajikan

Dari sebegitu banyaknya jenis makanan yang disediakan di Maya, saya hanya sanggup mencicipi empat macam dalam porsi piring-piring kecil. Meskipun mata dan lidah masih tertarik, tapi perut sudah menyerah.

Secara umum, harga makanan di Milan lebih murah dari pada harga makanan di Den Haag. Pilihannya juga lebih beraneka. Untuk harga yang sama dengan resto kelas “warteg” di Den Haag, kita bisa mendapatkan makanan resto kelas kafe di Milan.

Kafe cantik di pinggir jalan…
Pizzeria, tak hanya pizza, pasta di sini juga tak kalah lezatnya
Terkadang fast food juga tak terhindarkan…
Kalau yang ini hanya dilewati saja :)

Cita rasa makanannya juga lebih ok dari pada makanan Belanda…

Jangan lewatkan hari tanpa ini…
dan ini…

Setelah beberapa kali membeli kue dan kopi di sebuah kafe di Cadorna, saya baru sadar kalau harga makanan/minuman ternyata bisa lebih murah lagi kalau dinikmati sambil berdiri. Kebiasaan orang di Italia ini memang lucu kalau diperhatikan; jalan – masuk kafe – pesan minuman – tenggak – lalu jalan lagi, tanpa duduk.

Untuk makanan saya harus lebih cermat memilih. Cari yang aman saja, tanpa salami, pastrami, sosis, dsb… :)

Roti isi salmon…

Spaghetti pomodoro; saus tomat, keju, dan daun basil…
Roti + olive oil selalu tersedia dan gratis!
Cheese Pizza

Malam terakhir di Milan kami sempatkan untuk pergi makan malam dengan teman-teman mahasiswa Indonesia di sana; Fito, Wenny, Danny, serta Catalina, seorang mahasiswi asal Kolombia. L’Osteria Pane e O’jo, sebuah resto tradisional a la Roma, yang terletak di Via Ludovico Muratori menjadi pilihan. Meskipun letaknya tak seberapa jauh dari stasiun Porta Romana, tetapi kami sempat berputar-putar sewaktu mencari alamatnya. Masalahnya, saat itu udara sedang sangat dingin ditambah angin dengan hujan rintik-rintik, maka proses pencarian yang tak seberapa lama itupun jadi terasa sangat panjang, apa lagi perut sudah mulai keroncongan.

Temperatur kota yang dingin memang membuat saya merasa lebih cepat lapar. Dan rupanya di musim seperti itu perut melayu saya ini tidak cukup diisi dengan roti saja, dia menuntut makanan yang lebih berat seperti nasi, mie, atau pasta.

Setelah alamat ditemukan kami masih harus menunggu beberapa menit karena resto belum dibuka, pelayan bersikukuh meminta kami menunggu di luar, padahal hujan turun semakin deras. Saya baru merasa lega setelah masuk ke dalam ruangan resto yang hangat. Butuh perjuangan lebih untuk menikmati makan malam kali ini :)

Menunggu sambil menggigil di bawah plang resto ini
Wajah-wajah tersenyum menahan lapar

Karena tak ada satupun dari kami berenam yang mengerti betul makanan tradisional Italia kami sempat bingung juga waktu memilih makanan yang tertera dalam buku menu. Akhirnya pilihan kami jatuh pada:

Gnocchi


Gnocchi adalah menu pertama. Entah karena lapar atau apa, makanan ini rasanya enaaaaak sekali. Kami langsung sikat hingga tandas :)
 
Spaghetti


Menu kedua adalah spaghetti. Rasanya enak juga, tapi tidak selezat menu yang pertama.

Fettucini

Menu ketiga, fettucini, datang ketika spaghetti di meja belum sempat kami habiskan. Celakanya, rasa fettucini yang kami pesan 11/12 alias mirip dengan menu yang kami pesan sebelumnya. Alhasil makanan ketiga tidak kami sentuh sama sekali :D Fitorio kami tugaskan untuk membawanya pulang. “Kegilaan” saya terhadap pasta ternyata tak sedahsyat “kegilaan” saya terhadap nasi!

Keesokan harinya kami sudah harus meninggalkan kota Milan dan kembali ke “posko” utama di Den Haag (itu berarti kembali makan roti dan keju Belanda).

Terima kasih Danny, Wenny, dan Catalina yang bersedia meluangkan waktu untuk menemani kami. Juga pada Fitorio, yang meskipun sibuk dan lelah tapi tetap berusaha menjadi tuan rumah yang baik buat kami berdua (dan untuk roti, nutella, dan teh hangat yang tersedia di meja setiap pagi).

Tuan rumah dan tamunya


Selamat tinggal pizza dan pasta, selamat datang oliebollen, keju, dan kentang goreng… :)

Dari Malpensa ke Schipol, (kembali) bersama para alay Italia :))


“Life is a combination of magic and pasta.” 

- Federico Fellini

 

Arrivederci!

artikel ini juga bisa dibaca di sini









Minggu, 10 Maret 2013

“Alam semesta boleh kau miliki, asalkan Italia boleh kumiliki.”

Di sela-sela kunjungan saya dan suami ke Negeri Belanda akhir tahun lalu, pergi ke Italia adalah bonus. Sebenarnya tujuan utamanya adalah mengunjungi oma yang saat itu tengah dirawat di rumah sakit Utrecht, tapi keluarga yang tinggal di Den Haag mendesak kami untuk pergi ke sana. “Sudah jauh-jauh datang ke Eropa, jangan hanya bolak-balik Den Haag-Utrecht saja,” begitu kata mereka. Maka, setelah menimbang-nimbang kami pun memutuskan untuk pergi ke Milan. Dengan Easy Jet, maskapai penerbangan murah-meriah-nya Eropa, berangkatlah kami berdua ke kota yang sudah lama saya idam-idamkan itu.

Perjalanan dimulai…

Dari Schipol ke Malpensa, bersama para "alay" Italia :)

Hujan menyambut kedatangan kami di Milan

Membeli tiket bus Malpensa-Centrale
Perjalanan dari Malpensa ke Centrale makan waktu satu jam, tanpa macet. Cuaca dingin berangin yang sungguh aduhaaaiii langsung terasa begitu keluar dari bus. Milan ternyata sama saja dinginnya dengan Den Haag. Di Centrale, sahabat kami Fitorio, sudah menunggu. Desainer produk yang sedang kuliah S2 di Milan itu bersedia menampung selama kami berada di sana. Dalam perjalanan menuju apartemen mungilnya, Fitorio menjelaskan rute-rute bus dan metro yang penting untuk kami ingat bila bepergian. Maklum, saat itu dia sedang sibuk dengan berbagai tugas kuliah dan waktu untuk menemani kami tentu sangat sedikit. Maka kami pun mulai mencatat dan mengingat…

Stasiun persinggahan, Abbiategrasso ke/dari Centrale/Duomo/Cadorna via Romolo

Stasiun utama, Romolo, bila akan ke/dari apartemen Fitorio

Bus no.91 tumpangan kami dari apartemen ke Romolo

 Dan keesokan paginya, dengan gagah berani kami pun mulai menjelajahi Milan :)

Suasana di dalam metro

Duomo, tujuan pertama
Alun-alun kota Milan dilihat dari teras Milan Cathedral…

Duomo adalah pusat kota Milan. Bangunan Milan Cathedral dan lapangan luas berada di tengah, dikelilingi oleh gedung-gedung pertokoan, museum, kantor, cafe, dan restoran. Keberadaan bangunan Cathedral yang dibangun pada tahun 1386 itu, ditambah dengan museum serta butik-butik terkenal, menjadikan Duomo sebagai daerah turis. Banyak pedagang asongan yang sebagian besar adalah imigran dari Afrika berkeliaran di sana. Sebelum berangkat, Fitorio sudah mengingatkan kami untuk tidak menyentuh barang apa pun yang mereka tawarkan, karena menyentuh sama saja artinya dengan membeli :)

Milan Cathedral, gereja ke-3 terbesar di dunia, dilihat dari gedung Museo Del Novecento

Selain Milan Cathedral, banyak hal menarik yang kami lihat di Duomo. Antara lain: bazar barang bekas dan antik,

Berbagai gambar dan hiasan bertema keagamaan

Potongan iklan-iklan lama dari majalah

Papan reklame tua

Lalu ada Museum del Novicento di Arengario Palace, tidak jauh dari alun-alun Duomo. Di museum ini kita bisa mengikuti perjalanan sejarah seni rupa Italia mulai abad 20-an. Selain karya-karya seniman besar Italia seperti Modigliani, Boccioni, Fontana, dan Morandi, kita juga bisa menikmati karya seniman-seniman dunia seperti Picasso, Kandinskij, Braque, Mondrian, Klee, Matisse, hingga Issey Miyake. Berada di dalam museum ini sempat bikin saya sakit perut, hal yang biasa saya alami bila berada di tempat yang membuat saya merasa sangat antusias… :))

Museum of Twentieth Century

dan jangan lupa mampir juga ke…

Design Supermarket di la Rinascente dept.store!!!

Supermarket yang isinya barang-barang karya desainer Italia maupun mancanegara ini juga bikin perut saya terasa mulas… -_-*

Suasana di dalam Design Supermarket

Spiderelephant… :)
Desain khusus untuk anak yang susah makan

Boks kaleng Pantone

Kursi lipat Pantone

Ini membuat semua bayi tampak cool! :))

Notebook ber-quote

Dan yang paling membanggakan: radio Magno karya Mas Singgih!!!

 Selain melihat-lihat karya seni dan desain keren, kami juga disuguhi “pertunjukan” gratis :) Sebagai salah satu dari negara di Eropa yang terkena krisis ekonomi cukup parah, Milan di Italia juga tak luput dari berbagai aksi mogok..,

Poster pemogokan masal di Eropa
 demonstrasi...

Sayang kami tak mengerti apa tuntutan dari para pekerja imigran ini

Tapi ada juga pemandangan yang membuat miris...

Peminta-minta bertelanjang kaki ditengah udara yang sangat dingin… :(

Seharian kami berada di Duomo dan sangat menikmati pengalaman pertama menjelajah kota Milan.
Tujuan kami hari berikutnya adalah wilayah Cadorna. Dibandingkan dengan Duomo yang sangat turistik, saya lebih menikmati berada di Cadorna. Mengapa? Baca lanjutannya ya!

 

“You may have the universe, if I may have Italy.”

~Giuseppe Verdi
Salam,
indah

Baca juga artikel ini di sini




Selasa, 04 Oktober 2011

Kunjung Dua Ujung #2


Perjalanan Kunjung Dua Ujung siap dimulai!!!

Jadwal sudah diatur. Tiket sudah di tangan. Asuransi perjalanan sudah diurus. Teman-teman yang akan kami temui di Sabang dan Merauke sudah di hubungi. Barang bawaan serta bekal sudah disiapkan.

Selain saya, Iwan dan Ikyu ada seorang teman jalan kami, Decyca, yang juga memutuskan untuk bergabung. Syukurlah, pada saat-saat terakhir sebelum berangkat, dia akhirnya mendapatkan ijin cuti satu bulan penuh!!! Leganya kami :)

Karena tidak ada kapal Pelni yang melayani rute Sabang-Merauke non stop, maka perjalanan ini kami bagi dalam 2 etape:

Pertama, etape barat yang dimulai tgl.17 Juni 2011. Berangkat dengan KM Kelud dari Tanjung Priok, Jakarta menuju Belawan, Medan yang akan berlangsung selama 3 hari. Kemudian dilanjutkan dengan naik bus malam dari Medan menuju Banda Aceh pada tgl.19 Juni 2011, perjalanan ini makan waktu kurang lebih 10 jam. Tiba di Banda Aceh tgl.20 Juni 2011, lalu naik fery menyeberang ke sabang di pulau Weh. Kembali ke Jakarta via Banda Aceh pada tgl. 24 Juni 2011 dengan menggunakan pesawat.

Di etape pertama, saya tidak ikut naik KM Kelud ke Banda Aceh karena tgl.18 Juni 2011 harus hadir pada acara pengumuman pemenang "Cantikmu Inspirasiku" bersama Natur-E di Senayan, Jakarta. Saya akan menyusul Iwan, Ikyu dan Decyca ke Banda Aceh tgl.20 Juni 2011 dengan menggunakan pesawat terbang.

Ke dua, etape timur dimulai tgl.26 Juli Juni dari Jakarta ke Surabaya dengan kereta api Argo Anggrek. Menginap semalam di Surabaya, lalu keesokan harinya berangkat menuju Merauke dengan KM Kelimutu dari Tanjung Perak, Surabaya. Bila lancar, kami akan tiba di Merauke tgl 10 Juli 2011 dan kembali ke Jakarta dengan pesawat pada tgl.14 Juli 2011.

Penasaran. Apa kira-kira yang akan kami temui dalam perjalanan nanti?

Greece, I'm Coming!!!


Siapa yang menyangka kalau tahun ini saya bakal pergi ke Yunani?!

Sedang sibuk-sibuknya mengurus rencana pergi ke Sabang dan Merauke, eh, dapat kabar bahwa saya tepilih sebagai salah satu dari 3 orang perempuan yang dianggap inspiratif oleh Natur-E :))

Ini semua gara-gara seorang teman yang terus-terusan merayu saya supaya mau ikut pemilihan itu. Tidak tahu kenapa kok dia yakin betul saya bakal terpilih. Saya memang awet muda (ehem, ehem), tapi inspiratif? Wah, nggak tahu deh... Kebetulan, saya juga mengkonsumsi vitamin berwarna hijau itu sejak masih pengantin baru sampai sekarang sudah jadi ibu-ibu :) (meskipun tidak rutin).

Singkat cerita, dengan masih ragu-ragu toh saya kirim juga portfolio lengkap dengan foto-foto karya dan kegiatan saya dalam Indonesia Bertindak ke Natur-E. Lalu karena sibuk ini-itu, saya tidak ingat lagi soal ajang pemilihan tersebut. Dan tiba-tiba saja saya dapat telepon yang mengabarkan bahwa saya terpilih oleh Natur-E sebagai perempuan inspiratif bersama dua pemenang lain. Wah, seinspiratif itukah saya?
 
Acara pengumuman pemenangnya diadakan di Senayan pada tanggal 18 Juni 2011. Di sana Saya bertemu dan berkenalan langsung dengan Vina dan Rachel, 2 pemenang lain serta Dian Sastro dan Sherina Munaf yang menjadi duta Natur-E. Ramai dan seru sekali. Karena acara ini saya terpaksa mengundurkan jadwal keberangkatan saya ke Sabang dan harus naik pesawat ke Banda Aceh menyusul Iwan, Ikyu dan Decyca yang sudah berangkat lebih dulu naik kapal laut.

Rencananya para pemenang akan berangkat ke Yunani tanggal 18 Juli 2011, itu berarti hanya 4 hari setelah kepulangan saya dari Merauke! Mudah-mudahan saya sehat dan punya tenaga cukup nantinya.

Tahun ini sepertinya bakal seru sekali. Selain pergi ber-Kunjung Dua Ujung ke Sabang dan Merauke, saya juga akan berkunjung ke negeri kakek Plato dan Aristoteles di Yunani. Ah, senangnya.
Terima kasih ya, Natur-E! :)

Kamis, 29 September 2011

Kunjung Dua Ujung #1

Maaf, ini sebenarnya adalah artikel bulan Mei'2011  yang baru sempat ditayangkan...*tepok jidat*

Bertemu pak Cornelis Kowaas di Bintaro

Awalnya dari membaca buku berjudul "DEWA RUCI, Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudera" yang ditulis oleh Cornelis Kowaas, maka muncullah ide "gila" saya dan Iwan untuk melakukan perjalanan keliling Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dengan naik kapal laut. Yes, dengan kapal laut!

Kenapa dengan kapal laut? Karena pasti akan berbeda bila dibandingkan dengan naik pesawat! Hehe... Ya iyalah!!! Pertama, waktunya akan cukup panjang untuk bertemu lebih banyak orang. Kedua, melihat lebih banyak tempat. Ketiga, merasakan lebih banyak petualangan.

Karena untuk berkeliling Indonesia butuh waktu yang sangat panjang sementara kami hanya punya waktu satu bulan, maka kami putuskan untuk mengunjungi 2 titik paling barat dan timur Indonesia saja, yaitu Sabang dan Merauke. Tapi dengan kapal laut tentunya akan ada banyak tempat yang bisa kami singgahi.

Semoga rencana kami berjalan baik dan lancar. Ini juga merupakan nazar saya, bila Ikyu lulus SD maka saya akan mengajaknya pergi keliling Indonesia, melihat dari dekat betapa luas dan kaya negerinya. Semoga ini akan menambah rasa cinta kami pada negeri ini. Semoga...